Kedudukan Perempuan sebagai Mamak Kepala Hindu di Kel. Tiakar Kec. Payakumbuh Timur Menurut Pandangan Maqashid Syariah The Position of Women as Mamak Kepala Hindu in Kel. Tiakar, Kec. Payakumbuh Timur According to the Perspective of Maqashid Syariah
Main Article Content
Abstract
Women’s leadership in customary structures remains a debated issue in society, including in the context of ancestral property management among the Minangkabau community. Mamak kepala waris is an informal figure within a clan who is responsible for managing the distribution of ancestral property and various matters related to the clan’s inheritance, with the appointment process based on the agreement of clan members, either directly or implicitly. This study aimed to analyze the position of women as mamak kepala waris in Tiakar Urban Village and to examine this role from the perspective of Maqashid Syariah. This study used a descriptive qualitative approach with a field research design. Data were collected through observation and interviews with relevant informants and then analyzed descriptively and qualitatively. The results showed that the position of women as mamak kepala waris had been customarily recognized through a clan agreement letter and supported by the Kerapatan Adat Nagari, and was also in line with the Supreme Court decision. From the perspective of Maqashid Syariah, women’s leadership in customary structures can be accepted if it fulfills the five objectives of sharia, namely preserving religion, intellect, life, lineage, and property. The conclusion of this study emphasizes that Minangkabau women have an important position and contribution in customary structures, particularly in the management and preservation of the clan’s harta pusaka tinggi. These findings imply the strengthening of understanding regarding the flexibility of customary leadership based on clan agreement and its relevance to the principle of public benefit in Maqashid Syariah.
Downloads
Article Details

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
References
Abdillah, D. H. (2025). Tinjauan Teori Maqashid Syariah terhadap Praktik Pembagian Warisan dari Orang Tua kepada Anaknya dalam Masyarakat Adat Betawi (Studi di Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat) [Undergraduate thesis, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan]. https://opac.uingusdur.ac.id/perpus/index.php?id=1021353&p=show_detail
Afriko, N., Am, R., Saputra, R., & Wahyuni, S. (2025). Dekonstruksi Patriarki: Pemikiran Nawal El Saadawi dan Relevansinya dalam Budaya Matriarkat Minangkabau. Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan, 23(2), 427–439. https://doi.org/10.53515/qodiri.2025.23.2.427-439
Arifin, Z. (2013). Bundo Kanduang: (hanya) Pemimpin di Rumah (Gadang). Antropologi Indonesia, 34(2), Article 4. https://doi.org/10.7454/ai.v34i2.3968
Auliya, N., Lestari, R., & Hasanah, U. (2023). Penyelesaian Sengketa Tanah Ulayat oleh Ninik Mamak di Nagari Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, 2(3), 200–210. https://doi.org/10.55681/seikat.v2i3.515
Dewi, C. (2024). Gender dan Kekuatan Sosial: Analisis Antropologi terhadap Peran Wanita dalam Masyarakat Tradisional Minangkabau. DEMOS: Journal of Demography, Ethnography and Social Transformation, 4(2), 94–105. https://ojp.lp2m.uinjambi.ac.id/index.php/demos/article/view/2778
Hakam, A. (2021). Contested gender roles and relations in matriarchal Minangkabau. Muqoddima: Jurnal Pemikiran dan Riset Sosiologi, 2(1), 37–46. https://doi.org/10.47776/MJPRS.002.01.03
Hayati, R. H. (2019). Kedudukan Mamak dalam Masyarakat Adat Nagari Kamang Mudik Menurut Perspektif Hukum Islam Analisis terhadap Pergeseran Kewenangan Paman sebagai Hakam dalam Hukum Keluarga. Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, 18(1), 106–124. https://doi.org/10.24014/af.v18i1.7982
Herman, M. (2022). Kajian Teoritis Bundo Kanduang Simbol Kesetaraan Gender Berdasarkan Islam dan Minangkabau. Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender, 21(2), 93–105. https://doi.org/10.24014/marwah.v21i2.14039
Indrasukma, A. (2021). Pengelolaan Harta Pusaka Tinggi di Minangkabau: Studi Kasus di Kubang Putiah Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatra Barat. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 14(1), 99–111. https://doi.org/10.14421/ahwal.2021.14108
Iqbal, M., Kamma, H., & Fasiha, F. (2024). Eksplorasi Tradisi Pembagian Tanah Mana’ pada Masyarakat Kabupaten Luwu: Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif. Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 7(2), 403–419. https://e-journal.uac.ac.id/index.php/almada/article/view/5312
Jainah, J., Monady, H., & Sa’adah, N. (2025). Peran Perempuan dalam Kepemimpinan: Perspektif Hadis dan Realitas Kontemporer. Misykat al-Anwar Jurnal Kajian Islam dan Masyarakat, 8(2), 243–270. https://doi.org/10.24853/ma.8.2.243-270
Junita, I., Thahira, A., Putri, N. A. D., Valencia, H., & Sandora, L. (2025). Peran Perempuan dalam Sistem Matrilineal Minangkabau: Tinjauan dari Perspektif Feminisme dan Budaya Islam. Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah, 15(3), 1–10. https://cibangsa.com/index.php/tashdiq/article/view/3391
Manurung, K. (2022). Mencermati Penggunaan Metode Kualitatif di Lingkungan Sekolah Tinggi Teologi. Filadelfia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen, 3(1), 285–300. https://doi.org/10.55772/filadelfia.v3i1.48
Maulana, A., & Fitriasih, S. (2022). Analisis Yuridis Sengketa Tanah Ulayat di Lubuk Basung Sumatera Barat. The Juris, 6(1), 127–136. https://doi.org/10.56301/juris.v6i1.423
Nalardi, N. (2024). Kedudukan Mamak Kepala Waris dan Kewenangannya dalam Ruang Lingkup Tanah Pusaka Tinggi Adat di Lingkungan Masyarakat Adat Minangkabau di Sumatera Barat [Master’s thesis, Universitas Islam Sultan Agung Semarang]. https://repository.unissula.ac.id/33531/
Natalia, D., & Hasibuan, S. F. L. (2023). Penyelesaian Pembagian Harta Waris Menurut Hukum Adat Lampung. Jurnal Pro Justitia (JPJ), 4(1). https://doi.org/10.57084/jpj.v4i1.1077
Rahmat, I. (2019). Pengelolaan Harta Pusaka Tinggi dalam Masyarakat Adat Minangkabau: Studi di Kecamatan Batipuh Kabupaten Tanah Datar. Bakaba: Jurnal Sejarah, Kebudayaan dan Kependidikan, 8(1), 15–24. https://doi.org/10.22202/bakaba.2019.v8i1.4301
Ridwan, M. (2024). Eksistensi Organisasi Bundo Kanduang di Kabupaten Tanah Datar. Politik Islam, 3(2), 153–172. https://doi.org/10.31958/pi.v3i2.14075
Yuhelna, Y., Rahmadani, S., & Akbar, W. K. (2021). Penguatan Peran Perempuan dalam Pengelolaan Harta Pusaka Tinggi di Minangkabau. Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian, 1(2), 292–297. https://doi.org/10.31933/ejpp.v1i2.354
Zulfadli, W. B., & Oktaviani, W. (2025). Implementasi Perpindahan Warisan Pusaka Tinggi Menjadi Pusaka Rendah dalam Adat Minangkabau Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah. Bustanul Fuqaha: Jurnal Bidang Hukum Islam, 6(3), 557–574. https://doi.org/10.36701/bustanul.v6i3.2640




















