Tinjauan Hukum Pidana Islam dan Hukum Positif terhadap Kekuatan Pembuktian Saksi Ahli di Pengadilan Review of Islamic Criminal Law and Positive Law on the Evidentiary Strength of Expert Witnesses in Court
Main Article Content
Abstract
The role of expert witnesses is a key element in the evidentiary system of criminal cases, both in positive criminal law and in Islamic criminal law; however, comparative studies that specifically analyze their position and evidentiary weight in these two legal systems remain limited. This study aims to analyze and compare the status and evidentiary strength of expert testimony in positive law and Islamic law, and to explain the extent to which expert testimony influences judicial conviction in deciding criminal cases. This research employs library research with a normative and comparative approach through an examination of statutory regulations, the Al-Qur’an, Hadis, legal literature, and relevant scholarly journals. The findings show that in positive law, expert testimony is recognized as a valid means of proof as regulated in Article 184 of the Criminal Procedure Code (KUHAP), but it is not absolutely binding because judges retain discretion to assess it based on their conviction and the adopted evidentiary system. Meanwhile, in Islamic law, expert testimony is positioned as part of qarinah or bayyinah that serves to assist judges in uncovering material truth, even though it does not stand alone as a primary means of proof. The study concludes that, despite conceptual and terminological differences, both legal systems place expert witnesses as supporting instruments of proof for realizing just decisions. The implications of this research provide theoretical and practical foundations for legal academics and practitioners in optimizing the role of expert witnesses in criminal proceedings in a more proportional and accountable manner.
Downloads
Article Details

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
References
Abdussamad, H. Z. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. CV. Syakir Media Press.
Adib, M. M., Ibrahim, D., & Yuswalina, Y. (2021). Kriteria Saksi dalam Memberikan Kesaksian yang Benar pada Perkara Perceraian di Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang. Usroh: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 5(1), 73–90.
Akbar, A., Marpaung, M. T. M., Lubis, J. A. S., Zein, M., Mardhyah, D. P., & Lubis, A. I. (2024). Kedudukan Saksi Ahli Menurut Perspektif Hukum Islam. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(1), 2661–2673. https://doi.org/10.31004/innovative.v4i1.8220
Alamri, H. (2017). Kedudukan Keterangan Ahli sebagai Alat Bukti Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Lex Privatum, 5(1).
Amin, R. (2020). Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana dan Perdata. Deepublish.
Aprillia, A. (2025). Qiyas dalam Sumber Hukum Islam. Jurnal Syariah dan Ekonomi Islam, 3(1), 14–24.
Arifin, Z. (2020). Kehujahan Maqasid al-Syari’ah dalam Filsafat Hukum Islam. Al-‘Adalah: Jurnal Syariah dan Hukum Islam, 5, 259–270.
Arini, K. N., & Sujarwo, H. (2021). Kedudukan Saksi Ahli dalam Persidangan Perkara Pidana. Syariati: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hukum, 7(2), 245–256. https://doi.org/10.32699/syariati.v7i2.2244
Azwar, S. (2018). Eksistensi Alat Bukti dalam Pengadilan (Studi Komparatif Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia) [Doctoral dissertation, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu].
Bawono, R. (2022). Analisis Hukum tentang Isbat Nikah Menurut KUH Perdata dan KHI Indonesia. Lentera, 4(2), 67–82. https://doi.org/10.32505/lentera.v4i2.3960
Biloro, S. (2018). Kekuatan Alat Bukti Keterangan Ahli dalam Pembuktian Perkara Pidana Menurut KUHAP. Lex Crimen, 7(1).
Fanani, Z., & Insya’Ansori, A. (2024). Status dan Kedudukan Saksi Perempuan dalam Hukum Islam dan KUHPerdata. At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah, 12(1), 66–86. https://doi.org/10.61181/at-tahdzib.v12i1.373
Fathurrahman, F. (2022). Kehujjahan Hadits dan Fungsinya dalam Hukum Islam. SANGAJI: Jurnal Pemikiran Syariah dan Hukum, 6(1), 88–115. https://doi.org/10.52266/sangaji.v6i1.878
Firdaus, I. T. (2020). Keabsahan Alat Bukti pada Persidangan Perkara Pidana Melalui Teleconferensi di Masa Pandemi Covid 19. Al-Adl: Jurnal Hukum, 12(1), 151–171. https://doi.org/10.31602/al-adl.v12i1.4324
Gumeleng, F. (2022). Kajian Yuridis Terhadap Putusan Hakim dalam Suatu Perkara Pidana Ditinjau dari Pasal 183 KUHAP. Lex Privatum, 10(4).
Handoko, D. (2017). Asas-Asas Hukum Pidana dan Hukum Penitensier di Indonesia (Dilengkapi dengan Evaluasi Pembelajaran dalam Bentuk Teka-Teki Silang Hukum dan Disertai dengan Humor dalam Lingkup Ilmu dan Pengetahuan tentang Hukum). Hawa dan AHWA.
Haq, I. (2020). Al-Qasamah: Alternatif Pembuktian Tindak Pidana Pembunuhan dalam Hukum Positif. Istinbath: Jurnal Hukum, 17(1), 25–49. https://doi.org/10.32332/istinbath.v17i1.1988
Harahap, A. R. I., & Sy, S. (2020). Hukum Saksi dalam Perkawinan Islam. Guepedia.
Hasan, H., Bora, M. A., Afriani, D., Artiani, L. E., Puspitasari, R., Susilawati, A., ... & Hakim, A. R. (2025). Metode Penelitian Kualitatif. Yayasan Tri Edukasi Ilmiah.
Ibrahim, M. B., Sari, F. P., Kharisma, L. P. I., Kertati, I., Artawan, P., Sudipa, I. G. I., ... & Lolang, E. (2023). Metode Penelitian Berbagai Bidang Keilmuan (Panduan & Referensi). PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Imamiah, W. (2024). Penganiayaan Secara Bersama Ditinjau dari Pasal 170 Ayat (2) Ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Putusan Pengadilan Negeri Bangil Perkara Nomor: 172/Pid. B/2023/PN Bil) [Doctoral dissertation, Universitas Merdeka Pasuruan].
Khairuddin, K. (2025). Dari Syariat ke Kebiasaan: Fenomena Saksi Pernikahan Tanpa Standar Keadilan. Abdurrauf Science and Society, 1(3), 181–195. https://doi.org/10.70742/asoc.v1i3.187
Kusumastuti, A., & Khoiron, A. M. (2019). Metode Penelitian Kualitatif. Lembaga Pendidikan Sukarno Pressindo (LPSP).
Loway, S. (2022). Kedudukan Hakim dalam Proses Pembuktian Peradilan Pidana Indonesia. Lex Crimen, 11(5).
Lubis, F., & Hidayat, N. (2021). Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang di Kota Medan. Jurnal Mercatoria, 14(2), 88–93. https://doi.org/10.31289/mercatoria.v14i2.5554
Makinara, I. K., Jamhir, J., & Fadhilah, S. (2020). Saksi Testimonium de Auditu dalam Sidang Perceraian. El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga, 3(2), 227–242. https://doi.org/10.22373/ujhk.v3i2.7699
Masoara, T. (2016). Kajian Hukum Tes DNA (Deoxyribonucleic Acid) sebagai Alat Bukti Petunjuk dalam Persidangan Perkara Pidana (Kajian Pasal 184 KUHAP). Lex Crimen, 5(4).
Nadeak, L. H. (2017). Kedudukan Saksi Ahli dalam Pembuktian Tindak Pidana Pembunuhan Menurut Pasal 184 KUHAP. Lex Privatum, 5(4).
Nasution, M. S. A., & Nasution, R. H. (2020). Filsafat Hukum & Maqashid Syariah. Prenada Media.
Nugroho, B. (2017). Peranan Alat Bukti dalam Perkara Pidana dalam Putusan Hakim Menurut KUHAP. Yuridika, 32(1), 17–36. https://doi.org/10.20473/ydk.v32i1.4780
Putra, N. I. (2019). Azas Minimum Pembuktian untuk Menentukan Tersangka dalam Perkara Pidana. Lex et Societatis, 7(12). https://doi.org/10.35796/les.v7i12.27580
Rosyidi, A. (2022). Implikasi Isbat Nikah Terhadap Pernikahan di Bawah Tangan (Studi Penetapan Nomor 521/Pdt. P/2021/PA. Kab. Kdr) [Doctoral dissertation, IAIN Kediri].
Saepullah, A. (2018). Peranan Alat Bukti dalam Hukum Acara Peradilan. Mahkamah: Jurnal Kajian Hukum Islam, 3(1), 141–157. https://doi.org/10.24235/mahkamah.v3i1.2748.g1515
Sari, M. N., Susmita, N., & Ikhlas, A. (2025). Melakukan Penelitian Kepustakaan. Pradina Pustaka.
Siregar, K. S. (2023). Pertanggungjawaban Pidana Warga Negara Asing (WNA) yang Melakukan Usaha Perikanan yang Tidak Memenuhi Perizinan (Studi Putusan Nomor: 9/Pid. Sus-PRK/2021/PN Mdn).
Susi, E. (2019). Kekuatan Alat Bukti Keterangan Terdakwa Berdasarkan Pasal 189 KUHAP. Lex Crimen, 8(3).
Susilo, E., Rafi, M., & Syamsuyar, K. U. (2024). Menelisik Legalitas Ahli untuk Mengundurkan Diri atau Minta Dibebaskan dari Kewajiban Memberikan Keterangan di Persidangan. Jurnal Interpretasi Hukum, 5(2), 1152–1161.
Taufik, T., & Muhlisin, S. (2015). Hutang Piutang dalam Transaksi Tawarruq Ditinjau dari Perspektif Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 282. Jurnal Syarikah: Jurnal Ekonomi Islam, 1(1). https://doi.org/10.30997/jsei.v1i1.260
Thohari, H. F. (2018). Hadis Ahkam: Kajian Hadis-Hadis Hukum Pidana Islam (Hudud, Qishash, dan Ta’zir). Deepublish.
Tohari, C. (2016). Argumentasi Ibn Hazm: Dekonstruksi Kehujjahan Qiyâs sebagai Metode Penetapan Hukum Islam. Jurnal Istinbath, 13(1).
Wafi, A., Wijaya, A. A., Ridani, M. N., Hakim, B. R., & Haris, M. (2023). Reaktualisasi Persyaratan Perempuan Menjadi Saksi Perkara Perdata dalam Fikih Klasik dan Korelasinya pada Hukum Modern. Journal of Islamic and Law Studies, 7(2), 186–206. https://doi.org/10.18592/jils.v7i2.11550
Yustisi, N. (2024). Perkawinan dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif. Enlekturer: Journal of Islamic Studies, 2(1), 1–14. https://doi.org/10.71036/ejis.v2i1.320
Zainuddin, A. (2022). Legalitas Pencatatan Perkawinan melalui Penetapan Isbat Nikah. Al-Mujtahid: Journal of Islamic Family Law, 2(1), 60–72. https://doi.org/10.30984/ajifl.v2i1.1942




















