Legal Status and Consequences of Civil Agreements Made without a Notarial Authentic Deed
Main Article Content
Abstract
Authentic acts performed by notaries play a crucial role in the Indonesian civil law system because they provide legal certainty and evidentiary guarantees for the parties concerned. Although notaries, as public officials, possess the legal authority to codify the intentions of the parties into lawful deeds with full evidentiary weight as stipulated in Article 1868 of the Civil Code, Indonesian civil law does not require all agreements to be formalized as authentic notarial deeds as long as they comply with the validity requirements in Article 1320 of the Civil Code. In practice, civil agreements without notarial validation are frequently made and documented as handwritten or private deeds, a practice that raises legal challenges in the event of disputes, particularly regarding the legal validity of the agreement and its evidentiary force in court. This study aims to analyze the legal status of civil agreements concluded without an authentic notarial deed and the consequent legal ramifications from the perspectives of civil law and evidentiary law. Employing normative legal research, the study uses statutory and conceptual approaches, supported by an examination of legal concepts and relevant court decisions. The findings demonstrate that a civil agreement without an authentic notarial deed remains legally valid and binding on the parties as long as it fulfills the substantive requirements for validity; however, it lacks comprehensive evidentiary strength because it does not meet the external, formal, and material standards characteristic of an authentic deed. As a result, the parties face weaker legal protection, reduced legal clarity, and a higher potential for disputes. The study concludes that the use of authentic notarial deeds is an essential instrument for preventing legal problems and ensuring legal certainty and clarity in civil relations.
Downloads
Article Details

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
References
Agus Yudha, H. (2019). Hukum Perjanjian. Prenada Media.
Aimmah, N. N. (2025). Akibat Hukum Wasiat yang Tidak Dibuat dalam Bentuk Akta Otentik Menurut Putusan Nomor 196/Pdt.G/2016/PA.Tkl dan Putusan Nomor 111/Pdt.G/2017/PTA.Mks [Master’s thesis, Universitas Islam Sultan Agung Semarang]. https://repository.unissula.ac.id/42462/
Ali, A., Fitrian, A., & Hutomo, P. (2022). Kepastian Hukum Penerapan Asas Kebebasan Berkontrak dalam Sebuah Perjanjian Baku Ditinjau Berdasarkan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 1(2), 270–278. https://doi.org/10.55681/sentri.v1i2.234
Ardhan, M. U., Sandi, M. J., E. K. E. C., & P. M. R. S. (2025). Peran Hakim dalam Pembuktian Peran Perdata: Studi Kasus Sengketa Perjanjian Sewa Menyewa. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 12(5), 1996–2002. https://doi.org/10.31604/jips.v12i5.2025.1996-2002
Aulia, N., Noorjanah, & Nabilah, N. R. (2025). Analisis Yuridis Tanggung Jawab Notaris terhadap Isi dan Kebenaran Data dalam Akta Autentik. Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory, 3(2), 1666–1679. https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i2.1157
Begichev, A., & Frolova, E. (2023). Philosophical and theoretical aspects of court-notary interaction: Current relationships in the provision of evidence. Wisdom, 28(4), 90–100. https://doi.org/10.24234/wisdom.v28i4.1038
Damayanti, A. P. (2025). Perjanjian Kawin di Masyarakat Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Kantor Notaris Helena Maryam Prambadani, S.H.) [Thesis, Universitas Islam Indonesia]. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/57086
Fahmi, M. E. (2024). Peran dan Tanggungjawab Saksi Instrumentair sebagai Pegawai Notaris dalam Hukum Kenotariatan. Jurnal Hukum Bisnis, 8(3), 1374–1388. https://doi.org/10.33121/hukumbisnis.v8i3.2822
Fauziannor, A., Rahman, M. A., Syaugi, A., & Ilham, M. I. (2025). Perbandingan Kekuatan Pembuktian antara Akta Otentik dan Akta di Bawah Tangan dalam Sengketa Perdata. Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory, 3(2), 1963–1976. https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i2.1198
Firmansyah, M. I. P. (2024). Perlindungan Hukum Bagi Penghadap Penyandang Disabilitas dalam Pembuatan Akta Notaris. Acten Journal Law Review, 1(3), 203–218. https://doi.org/10.71087/ajlr.v1i3.16
Handriani, A., & Mulyanto, E. (2021). Kepastian Hukum Terkait Pentingnya Melakukan Perjanjian Tertulis dalam Bertransaksi. Pamulang Law Review, 4(1), 1–10. https://doi.org/10.32493/palrev.v4i1.12787
Hermawan, R. O., Adolf, H., & Santoso, E. (2024). Kajian Hukum Penerapan Pasal 1320 KUHPerdata dalam Kontrak Elektronik. Iustitia Omnibus: Jurnal Ilmu Hukum, 5(2), 141–164.
Hertanto, S., & Djajaputra, G. (2024). Tinjauan Yuridis terhadap Penyelesaian Wanprestasi dalam Perjanjian Jual Beli. UNES Law Review, 6(4), 10368–10380. https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i4.1905
Irmawati, W., Putrijanti, A., & Lumbanraja, A. D. (2020). Keabsahan Akta Notaril Perjanjian Pengikatan Jual Beli dalam Peralihan Hak atas Tanah. Notarius, 13(2), 738–748. https://doi.org/10.14710/nts.v13i2.31098
Jabalnur, Ruliah, Haris, O. K., Yuningsih, D., Zahrowati, & Aci, M. H. L. (2024). Perjanjian di Bawah Tangan Ditinjau dari Asas Pacta Sunt Servanda. Halu Oleo Legal Research, 6(2), 247–257. https://doi.org/10.33772/holresch.v6i2.848
Kuspraningrum, E. (2011). Keabsahan Kontrak Elektronik dalam UU ITE Ditinjau dari Pasal 1320 KUHPerdata dan UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce. Risalah Hukum, 64–76.
Mirfa, E., & Rimadona, D. (2025). Analisis Penyebab dan Dampak Hukum Degradasi Kekuatan Pembuktian Akta Notaris. REUSAM: Jurnal Ilmu Hukum, 13(1), 58–76. https://doi.org/10.29103/reusam.v13i1.21950
Momuat, O. M. (2014). Alat Bukti Tulisan dalam Pemeriksaan Perkara Perdata di Pengadilan. Lex Privatum, 2(1). https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lexprivatum/article/view/3968
Oktavia, K. R. W., & Rahayu, M. I. F. (2025). Analisis Perlindungan Hukum Tanah Belum Bersertifikat melalui Akta Notaris. Jurnal USM Law Review, 8(3), 1949–1977. https://doi.org/10.26623/julr.v8i3.12742
Palit, R. C. (2015). Kekuatan Akta di Bawah Tangan sebagai Alat Bukti di Pengadilan. Lex Privatum, 3(2). https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lexprivatum/article/view/7842
Panggabean, R. M. (2010). Keabsahan Perjanjian dengan Klausul Baku. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, 17(4), 651–667. https://doi.org/10.20885/iustum.vol17.iss4.art8
Pradistya, T. (2022). Tanggung Jawab Notaris Secara Hukum Perdata dan Hukum Administrasi yang Lalai karena Membuat Akta Perjanjian yang Tidak Memenuhi Syarat Sahnya Perjanjian (Studi Putusan Pengadilan Negeri Selong Nomor 87/PDT.G/2019/PNSEL). Indonesian Notary, 4(2). https://scholarhub.ui.ac.id/notary/vol4/iss2/32
Pratama, B., Warsito, H., & Adriansyah, H. (2022). Prinsip Kehati-Hatian dalam Membuat Akta oleh Notaris. Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan, 11(1), 24–33. https://doi.org/10.28946/rpt.v11i1.1640
Rahim, A. (2022). Dasar-Dasar Hukum Perjanjian: Perspektif Teori dan Praktik. Humanities Genius.
Rahmadhani, F. (2020). Kekuatan Pembuktian Akta di Bawah Tangan yang Telah Diwaarmerking Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia. Recital Review, 2(2), 93–111. https://doi.org/10.22437/rr.v2i2.9135
Ratna, H. (2025). Asas-Asas Umum Hukum Perdata dalam Perspektif Modern. Takaza Innovatix Labs.
Sanjaya, S. (2021). Keabsahan Perjanjian Pengikatan Jual Beli yang Objeknya Sama dengan Perjanjian Jual Beli dengan Hak Membeli Kembali (Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 509 K/PDT/2020). Indonesian Notary, 3(4). https://scholarhub.ui.ac.id/notary/vol3/iss4/3
Sari, E. N. (2019). Telaah terhadap Pemenuhan Syarat Subjektif Sahnya Suatu Perjanjian di dalam Transaksi Elektronik yang Dilakukan Anak di Bawah Umur. Jurnal Poros Hukum Padjadjaran, 1(1), 118–134.
Sasauw, C. (2015). Tinjauan Yuridis tentang Kekuatan Mengikat Suatu Akta Notaris. Lex Privatum, 3(1). https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lexprivatum/article/view/7030
Sopiani, S., Senda, V. N., Muzzamil, M. F., & Anugrah, D. (2024). Implikasi Hukum KetidakTerpenuhan Syarat Subjektif dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terhadap Keabsahan Perjanjian. Letterlijk, 1(2), 169–182.
Suadi, I. P. M., Yuliartini, N. P. R., & Ardhya, S. N. (2021). Tinjauan Yuridis Subyek Hukum dalam Transaksi Jual Beli Online/E-Commerce Ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jurnal Komunitas Yustisia, 4(2), 668–681.
Susanti, N. (2024). Kepastian Hukum Penerapan Asas Kebebasan Berkontrak dalam Sebuah Perjanjian Baku Ditinjau Berdasarkan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Indragiri Law Review, 2(2), 33–39. https://doi.org/10.32520/ilr.v2i2.32
Taliwongso, C. A. A. (2022). Kedudukan Akta Otentik sebagai Alat Bukti dalam Persidangan Perdata Ditinjau dari Pasal 1870 KUH Perdata (Studi Kasus Putusan Nomor 347/Pdt.G/2012/PN.Mdn). Lex Administratum, 10(2). https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/administratum/article/view/40531
Vicky, V., Samosir, T., & Harlina, I. (2024). Akibat Hukum Bagi Notaris yang Tidak Saksama dalam Pembuatan Akta Kuasa Menjual (Studi Kasus Putusan No. 20pk/Pid/2020). Jurnal Hukum Sasana, 10(2), 48–59. https://doi.org/10.31599/sasana.v10i2.2737
Wahid, A., Rohadi, & Badriyah, S. M. (2022). Serba-Serbi Memahami Hukum Perjanjian di Indonesia. Deepublish.
Wardhani, L. C. (2017). Tanggung Jawab Notaris/PPAT terhadap Akta yang Dibatalkan oleh Pengadilan [Thesis, Universitas Islam Indonesia]. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/8969




















